Fantastis. Di usianya yang ke-13 tahun Telkomsel telah merambah hingga ke berbagai pelosok negeri. Bahkan, Suku Laut yang selama ini dianggap terisolir juga telah memanfaatkan jaringan komunikasi ini. Bagi mereka Handphone bukanlah suatu hal yang asing dan sudah menjadi bagian dari keseharian.
Suku Laut merupakan suatu etnis atau suku bangsa yang terdapat di wilayah Kepulauan Riau. Mereka hidup di atas perahu dan selaku berpindah-pindah tergantung kepada iklim dan musim.
Sekitar 50 meter dari bibir pantai Sebong Pereh, Kabupaten Bintan terlihat sekelompok perahu terombang-ambing dipermainkan gelombang. Dari kejauhan terlihat asap tipis mengepul dari beberapa perahu yang dilengkapi atap dari daun kelapa itu. Bagi Suku Laut, perahu sekaligus rumah bagi mereka.
Untuk menghampiri perahu Suku laut itu ternyata tidak mudah, karena jaraknya cukup jauh sekitar 50 puluh meter dari bibir pantai. Namun saat didekati, sebagian besar perahu-perahu tersebut dalam keadaan kosong, hanya beberapa orang saja yang ditemui sedang tidur-tiduran.
Ternyata sebagian besar dari mereka saat itu sedang naik ke darat. “Sebagian sedang ke darat. Darimana Pak,” ujar Ali, warga Suku Laut itu.
Pria berumur 32 tahun itu mengaku sudah punya dua anak. “Anak saya yang pertama bernama Teli umur 13 tahun. Dan yang kedua Feli umur 1,5 tahun. Tuh sedang tidur,” ujar Ali sambil menunjuk seorang bocah yang terbungkus selimut tidur dengan nyenyak di atas perahu tersebut.
Ali yang didampingi Istrinya Rohana (32) tahun, mengaku laut adalah keseharian bagi mereka. “Namanya aja kami orang laut, yah hidup di lautlah,” ujar Ali.
Namun untuk berkomunikasi, saat ini menurut Ali tidak hambatan lagi. “Rata-rata orang Suku Laut sekarang sudah pakai handphone Pak,” tukasnya bangga.
Sesaat Ali menyelusup ke dalam rumah perahunya dan kemudian keluar sambil menggengam sebuah handphone merek Nokia.”Ini Hp saya. Tapi sayang tak bisa dihidupkan karena baterainya abis,” ujarnya.
Ali mengatakan dengan kehadiran Handphone tersebut sangat membantunya, terutama berkomunikasi dengan keluarganya di Berakit. “Kalu kami ini kan tinggal di Pulau Ngenang Pak. Kan jauh. Tapi dengan adanya Hp kami mudah saja menghubungi mereka,” ungkapnya.
Istri Ali, Rohana mengatakan untuk mengisi baterei HP itu mereka terpaksa naik ke darat. “Jadi kalau mau mencash Hp terpaksalah kami ke darat. Memang di perahu kami ini ada aki tapi tak bisa dicash. Coba kalau ada alat cash yang dari aki atau baterei tentu kami tak repot-repot lagi ke darat,” ujarnya.
Saat ditanya berapa nomor handponenya, Ali mengaku tak ingat lagi. “Abis saya tak sekolah Pak. Saya tak bisa baca tulis. Kalau main SMS juga tak bisa. Tapi kalau menelpon kan Cuma pencet nomor aja,” celetuknya malu-malu.
Ketika ditanya, kartu apa yang dipakai, dengan tegas Ali mengatakan ia memakai Kartu As. “Kalau pakai kartu lain susah pak. Tidak jelas dan kadang-kadang putus-putus. Tapi kalau kartu As bersih dan dimana aja bisa,” ungkapnya.
Untuk membuktikan bahwa ia benar-benar menggunakan produk Telkomsel itu, Ali membuka kartu yang terdapat di ponselnya. “Ini Pak, berapa nih nomornya, saya tak tahu,” sambil memperlihatkan kartu Telkomsel itu dan tertera di sana nomor 08526210197242992028.
Selain signalnya jelas, menurut Ali memakai kartu As lebih irit. “Saya bisa mengisi pulsa lima ribu atau sepuluh ribu saja per bulan,” ujar Ali yang mengaku sudah setahun lebih memiliki ponsel itu.
Ali sendiri menyadari keberadaan Telkomsel telah sangat membantu komunikasi warga yang terdapat di pelosok-pelosok. “Sayang kenapa Telkomsel itu tidak hadir dari dulu. Kalau dari dulu tentu kami tidak akan terisolir,” tandasnya. (ary sastra)


Komentar Terakhir