Oleh: arysastra | Juli 28, 2008

Nissah Jago Bercerita

 

Kemampuannya berimajinasi dan bertutur dengan dramatis, membuat dewan juri lomba bercerita tingkat anak-anak se-Kota Tanjungpinang terpikat. Khairunnissah demikian nama lengkapnya, berhasil menyisihkan para pesaingnya dan ditetapkan sebagai juara pertama dalam lomba bercerita itu.

Dalam perlombaan itu, bocah yang akrab disebut Nissah ini menceritakan keinginannya menjadi Wali Kota. Murid kelas 3, utusan SDN 013 Tanjungpinang Timur ini beraksi di sambil membawa bonekanya ke atas panggung.

Bocah kelahiran 11 Agustus 2000 ini bercerita sambil membelai-belai bonekanya. Aksi panggung Nissah inilah yang membuat dewan terpikat dan menetapkannya sebagai juara pertama.

Saat dirinya disebut juri keluar sebagai juara pertama, anak ketiga dari pasangan Iskandar dan Nine Erita itu melangkah ke atas pentas dengan senyum kebahagiaan. “Gimana gak senang Om, toh latihannya aja tak sampai satu hari,” ujarnya saat diwawancarai Tribun.

Atas keberhasilannya itu Nissah berhak mendapat hadiah, tropi, piagam dan uang tunai sebesar satu juta rupiah. “Hadiahnya Nissah gunakan buat beli buku aja,” ungkapnya.

Nissah mengatakan saat tampil, ceritanya yang disampaikannya mengalir begitu saja. “Emang sih idenya dari guru, tapi Nissah tambah-tambah,” jelasnya.

Guru pendamping Nissah, Sri Zainurih Bahnawati mengakui bahwa persiapan yang mereka lakukan sangat singkat.“Soalnya, kami dari pihak sekolah juga mengetahui adanya lomba ini mendadak,” ujar dia.

Meski demikian, ia bersama dengan guru-guru lainnya di SDN 013 Tanjungpinang Timur tetap mempersiapkan anak didiknya. Sehingga terpilih Nissah, karena memang selama ini ia paling menonjol dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Menurut Sri, pihak sekolah sangat bangga dan senang atas keberhasilan Nissah. “Bahkan kepala sekolah kami, Pak Hairun Amin mengatakan tropi dan piagam itu akan diserahkan dalam upacara di sekolah Hari Senin besok (hari ini-red). (ary sastra)

Oleh: arysastra | Juli 28, 2008

Kalau Hujan Atap tak Bocor Lagi

T

 

tersenyum bahagia
tersenyum bahagia

Tak pernah terbayangkan oleh Sunar, memiliki rumah secara permanen. Namun bagaikan dalam mimpi, rumahnya yang selama ini terbuat dari kayu telah disulap oleh tim bedah rumah Pemerintah Kota Tanjungpinang sehingga menjadi permanen.

 

“Saya jarang mimpi Pak. Tak ada firasat sama sekali, bahwa rumah saya yang gubuk ini direhab oleh Pemko Tanjungpinang,” ujar Sunar, warga Batu 14 Kelurahan Pinang Kencana, Jumat (11/7).

Bapak tiga anak itu menceritakan, sebelum diperbaiki ia dan keluarga selalu kerepotan jika hujan tiba. “Soalnya kalau hujan atap rumah kami ini banyak yang bocor. Tapi sekarang Alhamdulilah kalau hujan atap kami ini tak bocor lagi,” ungkapnya.

Sunar mengatakan selama ini ia tidak punya biaya untuk memperbaiki rumah yang sudah ditempatinya selama 28 tahun itu. “Maklumlah Pak kerja saya hanya berkebun. Untuk makan saja susah,” keluhnya.

Namun kini Sunar dan keluarganya bisa berbahagia.  Rumah kayu yang mereka tempati telah berubah menjadi permanen. “Tapi saya kalau malam sering kedinginan Pak. Maklumlah saya tidak terbiasa dengan rumah batu,” ungkap Sunar yang didampingi Istrinya Supini dengan malu-malu.

Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan yang meninjau kondisi rumah Sunar ikut merasakan kebahagiaan keluarga Sunar. “Yah kita bersyukur karena program bedah rumah ini sangat membantu warga yang kurang mampu,” ujar Suryatati.

Menurut Suryatati, program bedah rumah itu dilakukan bersempena dengan Hari Ulang Tahun Pemko Tanjungpinang yang ke-6 lalu. “Jadi di setiap kelurahan kita pilih satu rumah. Jadi ada 18 rumah yang kita rehab,” jelasnya.

Anggota DPRD Tanjungpinang, Hartono yang ikut mendampingi Wali Kota mengharapkan kepada Suryatati agar melanjutkan program tersebut. “Sebaiknya ini tiap tahun kita lakukan,” sarannya.

Menanggapi saran itu Wali Kota mengatakan bahwa pada tahun ini jugasudah diprogramkan. “Memang sudah kita rencanakan. Kita berharap juga dukungan dari dewan,” ujarnya. (ary sastra)

 

 

Oleh: arysastra | Juli 28, 2008

Suku Laut dan Telkomsel

suku laut

suku laut

Fantastis. Di usianya yang ke-13 tahun Telkomsel telah merambah hingga ke berbagai pelosok negeri. Bahkan, Suku Laut yang selama ini dianggap terisolir juga telah memanfaatkan jaringan komunikasi ini. Bagi mereka Handphone bukanlah suatu hal yang asing dan sudah menjadi bagian dari keseharian.

 

Suku Laut merupakan suatu etnis atau suku bangsa yang terdapat di wilayah Kepulauan Riau. Mereka hidup di atas perahu dan selaku berpindah-pindah tergantung kepada iklim dan musim.

Sekitar 50 meter dari bibir pantai Sebong Pereh, Kabupaten Bintan terlihat sekelompok perahu terombang-ambing dipermainkan gelombang. Dari kejauhan terlihat asap tipis mengepul dari beberapa perahu yang dilengkapi atap dari daun kelapa itu. Bagi Suku Laut, perahu sekaligus rumah bagi mereka.

Untuk menghampiri perahu Suku laut itu ternyata tidak mudah, karena jaraknya cukup jauh sekitar 50 puluh meter dari bibir pantai. Namun saat didekati, sebagian besar perahu-perahu tersebut dalam keadaan kosong, hanya beberapa orang saja yang ditemui sedang tidur-tiduran.

Ternyata sebagian besar dari mereka saat itu sedang naik ke darat. “Sebagian sedang ke darat. Darimana Pak,” ujar Ali, warga Suku Laut itu.

Pria berumur 32 tahun itu mengaku sudah punya dua anak. “Anak saya yang pertama bernama Teli umur 13 tahun. Dan yang kedua Feli umur 1,5 tahun. Tuh sedang tidur,” ujar Ali sambil menunjuk seorang bocah yang terbungkus selimut tidur dengan nyenyak di atas perahu tersebut.

Ali yang didampingi Istrinya Rohana (32) tahun, mengaku laut adalah keseharian bagi mereka. “Namanya aja kami orang laut, yah hidup di lautlah,” ujar Ali.

Namun untuk berkomunikasi, saat ini menurut Ali tidak hambatan lagi. “Rata-rata orang Suku Laut sekarang sudah pakai handphone Pak,” tukasnya bangga.

Sesaat Ali menyelusup ke dalam rumah perahunya dan kemudian keluar sambil menggengam sebuah handphone merek Nokia.”Ini Hp saya. Tapi sayang tak bisa dihidupkan karena baterainya abis,” ujarnya.

Ali mengatakan dengan kehadiran Handphone tersebut sangat membantunya, terutama berkomunikasi dengan keluarganya di Berakit. “Kalu kami ini kan tinggal di Pulau Ngenang Pak. Kan jauh. Tapi dengan adanya Hp kami mudah saja menghubungi mereka,” ungkapnya.

Istri Ali, Rohana mengatakan untuk mengisi baterei HP itu mereka terpaksa naik ke darat. “Jadi kalau mau mencash Hp terpaksalah kami ke darat. Memang di perahu kami ini ada aki tapi tak bisa dicash. Coba kalau ada alat cash yang dari aki atau baterei tentu kami tak repot-repot lagi ke darat,” ujarnya.

Saat ditanya berapa nomor handponenya, Ali mengaku tak ingat lagi. “Abis saya tak sekolah Pak. Saya tak bisa baca tulis. Kalau main SMS juga tak bisa. Tapi kalau menelpon kan Cuma pencet nomor aja,” celetuknya malu-malu.

Ketika ditanya, kartu apa yang dipakai, dengan tegas Ali mengatakan ia memakai Kartu As. “Kalau pakai kartu lain susah pak. Tidak jelas dan kadang-kadang putus-putus. Tapi kalau kartu As bersih dan dimana aja bisa,” ungkapnya.

Untuk membuktikan bahwa ia benar-benar menggunakan produk Telkomsel itu, Ali membuka kartu yang terdapat di ponselnya. “Ini Pak, berapa nih nomornya, saya tak tahu,” sambil memperlihatkan kartu Telkomsel itu dan tertera di sana nomor 08526210197242992028.

Selain signalnya jelas, menurut Ali memakai kartu As lebih irit. “Saya bisa mengisi pulsa lima ribu atau sepuluh ribu saja per bulan,” ujar Ali yang mengaku sudah setahun lebih memiliki ponsel itu.

Ali sendiri menyadari keberadaan Telkomsel telah sangat membantu komunikasi warga yang terdapat di pelosok-pelosok. “Sayang kenapa Telkomsel itu tidak hadir dari dulu. Kalau dari dulu tentu kami tidak akan terisolir,” tandasnya. (ary sastra)

 

Oleh: arysastra | Juli 21, 2008

Upaya SLB Tanjungpinang Punya Transportasi

murid slb tanjungpinang

murid slb tanjungpinang

Duit Belum Cukup, Kami Mau Ngamen

Upaya Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Tanjungpinang mempunyai kendaraan transportasi sendiri untuk antar jemput siswanya belum terwujud. Meski sudah menggalang bantuan, dana yang terkumpul belum mencukupi untuk membeli satu unit mobil.

 

“Duit kami baru terkumpul Rp 110 juta. Sementara harga satu unit mobil minibus sekitar Rp 190 juta. Mana cukup buat beli mobil,” ujar Riasnelly, Kepala Sekolah SLBN Tanjungpinang kepada Tribun, saat menerima kunjungan Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan, Kamis (17/7).

 

Menurut Riasnelly, mobil transportasi itu sangat mereka butuhkan, apalagi sebagian dari siswa SLBN Tanjungpinang sudah mulai belajar di gedung baru di Senggarang. “Mulai Senin kemarin, 38 anak-nak kami yang tuna rungu sudah pindah ke sana. Tapi di sana juga masih terkendala dengan masalah listrik. Karena mereka belajar memakai hearing head dan headphone,” jelasnya.

 

Untuk sementara saat ini, pihaknya masih menggunakan transportasi carteran. “Jadi kita bayar antara Rp 150-250 ribu per anak. Itu disesuaikan kemampuan orangtua anak. Jadi ada subsidi silang,” terangnya.

 

Riasnelly menerangkan jumlah muridnya mulai dari TK sampai SMA sebanyak 151 orang. Sedangkan jumlah guru sebanyak 38 orang.

 

Dalam kunjungan itu, Wali Kota memberikan bantuan sebesar Rp 50 juta. Selain memberikan bantuan, Suryatati juga berjanji akan mengajak para guru SLBN untuk berkreasi. “Yah biar ada penyegaran , sehingga lebih semangat lagi untuk mengajar,” jelasnya di hadapan majelis guru SLBN.

 

Suryatati mengucapkan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan para guru SLBN selama ini. “Mengajar anak-anak di SLB ini tidak mudah. Butuh tenaga ekstra, kesabaran dan pengabdian yang ekstra pula,” ucap dia.

 

Peppy Chandra, Pimpinan PLS Sanggam yang selalu mendampingi SLBN Tanjungpinang  menggalang dana untuk pembelian mobil transportasi bertekad akan terus mencari bantuan. “Duit kami belum cukup Pak. Makanya kami mau mengamen. Saya mohon izin kepada Pak Kepala Dinas,” ujar Peppy kepada KepalaDinas Pendidikan Tanjungpinang, Ahadi yang berada di sampingnya.

 

Menanggapi keinginan itu, Ahadi menyarankan agar menggelar malam amal saja. “Kan malam amal di Batam belum terlaksana. Saya yakin bisa terkumpul itu. Bukannya saya melarang lo. Tapi pemikiran orang kan lain-lain. Nanti berapa kurangnya kita rembukkan lagi dengan Ibu Wali Kota,” jelas Ahadi. (ari sastra)

 

Kategori